Beranda > Jatim > Kontroversi CCTV di Lokalisasi Dolly

Kontroversi CCTV di Lokalisasi Dolly

https://i1.wp.com/media.vivanews.com/thumbs2/2010/04/01/87487_pekerja_seks_komersial__psk__gang_dolly_surabaya_300_225.jpg“Tutup langsung saja. Percuma dipasang CCTV, pasti akan menghambur-hamburkan uang saja.”

SURABAYA POST– Pemasangan closed circuit television (CCTV) di kawasan Dolly dinilai sejumlah anggota dewan tidak efektif.

Bahkan pemasangan CCTV yang menggunakan APBD kota tersebut dianggap pemborosan. Selain itu, kalau pemasangannya dipaksakan, keberadaan CCTV masih bisa diakali pengunjung lokalisasi.

“Tutup langsung saja. Percuma dipasang CCTV, pasti akan menghambur-hamburkan uang saja. Kan uangnya bisa untuk mengentas kemiskinan dan untuk pendidikan atau layanan kesehatan,” kata Yayuk Rahayu, anggota Komisi D DPRD Surabaya, Rabu (27/10).

Menurut dia, dirinya tidak setuju dengan sikap Pemkot yang akan memasang CCTV di Dolly. Pasalnya pemasangan CCTV hanya akan mengawasi orang-orang yang lalu lalang di tengah jalan di kawasan lokalisasi. Sementara keberadaan pekerja seks komersial (PSK) dan pria hidung belangnya tetap leluasa keluar masuk ke lokalisasi tersebut dengan mengendarai mobil.

Menurut dia, kalau Pemkot mau Surabaya bebas lokalisasi dan tidak ingin dosa besar, sebaiknya Dolly langsung ditutup.

Ungkapan serupa disampaikan Ine Listiyani, yang juga anggota Komisi D. Dia mengatakan, CCTV bisa disalahgunakan pihak tertentu. Misalnya jadi ajang pemerasan. Bagi oknum yang punya niatan jelek, dia bisa menyebarkan rekaman CCTV itu. Selanjutnya, memeras orang yang wajahnya terpampang di CCTV. “Kalau seperti ini kan repot,” ujar dia.

Sementara Masduki Toha yang juga anggota Komisi D mengatakan, pemasangan CCTV di kawasan Dolly patut didukung. Karena keberadaan CCTV bisa mendeteksi jumlah pengunjung Dolly. Bahkan bisa mengurangi minat laki-laki hidung belang untuk ‘jajan’ ke Dolly.

Selanjutnya secara tidak langsung Pemkot gang Dolly menjadi sepi. Kemudian gang Dolly tutup dengan sendirinya. “Kalau gang Dolly menjadi sepi pengunjung kan akhirnya tutup,” beber dia.

Secara pribadi, kader PKB ini mengaku sangat setuju lokalisasi ditutup. Namun sebelum melakukan keputusan itu, Pemkot dan Pemprov harus duduk bersama. Sebab, selama ini kedua kepemerintahan ini terkesan gegeran terhadap wacana penutupan lokalisasi Dolly. Untuk itu, musyawarah antara Pemkot dan Pemprov merupakan jalan yang terbaik.

“Harus dicarikan solusi yang lebih baik,” pinta dia.

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini mengatakan dia memang meminta Dinas Komunikasi dan Informatika menganggarkan dana untuk CCTV. Tapi tidak hanya khusus di Dolly, tapi juga di kawasan-kawasan lain yang ada lokalisasinya, seperti Tambakasri, Krembangan dan lainnya.

Khusus di Dolly, katanya, karena dia ingin melakukan pengendalian di kawasan tersebut. “Ya, itu tujuan Pemkot dan CCTV itu tidak dipasang di ruang pribadi atau setiap Wisma,” katanya.

Risma menuturkan, Pemkot saat ini masih belum bisa menutup gang Dolly, karena prosesnya tidak bisa dilakukan secara serta-merta. Untuk melakukan itu dibutuhkan persiapan terencana, misalnya tentang strategi fisik, sosial dan ekonomi. “Semua dampak harus dikaji terlebih dulu,” beber dia.

Purnomo Siswanto & Rista Rama

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: